[Spin-Off] Siblings

Title: Siblings

Writer: Yuu
Characters: Adiwangsa kiddos
Rating: T (for Aga’s cussing and Indri’s fangirl mind XD)

A/N: Spinoff sibling fic for Adiwangsa kids, because they deserve some family time. Crosspost dari LJ Yuu.

—————–

Guys night?

Aga mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang tengah ia baca untuk menemukan Indriana, adik bungsunya, sudah berdiri bersandar pada kusen pintu ruangan kantornya dengan tangan terlipat di depan dada dan alis terangkat, dibarengi sebuah senyum yang mencurigakan.

Hello to you, too, Sugababe,” balas Aga sebelum kembali membaca dokumen di atas meja kerjanya. “Kecuali kamu mau bergabung dalam guys night itu, tolong masuk dan bertingkahlah selayaknya perempuan.”

Whaaat? Berdiri di ambang pintu bukan tingkah perempuan?” protes Indriana. Aga memberinya sebuah pandangan tidak setuju dan ia segera menegakkan tubuhnya. “That could be described as a gender discrimination, brother.”

“Masuk, Indri.”

Indriana mendengus sebal sebelum menuruti perintah kakaknya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas salah satu kursi putar yang terletak di hadapan Aga, kembali menghasilkan pandangan tidak setuju dari sang kakak yang segera ia balas dengan kedikan bahu acuh. “Gue begini karena sejak kecil dikelilingi tiga sumber testoteron, tahu.”

Aga tertawa kecil sebelum menutup dokumen dan memberi perhatian penuh pada adiknya. “Jadi? Seharusnya gue kirim satu undangan lagi buat adik gue yang manis ini, gitu?”

“Yep!” Indriana tertawa. “No, just kidding. Gue cuma mau tau apa yang lo rencanain sama guys night ini, Mas.”

“Dari mana lo tau gue berencana bikin guys night, anyway?”

“Ada undangan–yang jeleknya minta ampun dan nggak ada unsur seninya sama sekali–di mejanya Mas Nata waktu gue nganter dokumen buat dia,” jawab Indriana. “Dari jeleknya tulisan dan pemilihan hiasan–yang, sebenarnya, nggak ada hiasan sama sekali–gue langsung tau kalau itu dari Mas Aga.”

Aga memutar bola matanya. “Mas Nata sudah baca undangannya?”

“Belum. Gue buka duluan.”

“Akan lebih baik kalau dia nggak mengira ada maling di kantornya,” erang Aga. “Dia bakal ngamuk dan nyalahin gue.”

“Biar. Lovers’ quarrel Mas Nata sama Mas Aga asik buat ditonton, sih.” Aga memelototinya. Indri tertawa lagi. “Jadi, ada apa di guys night ini?”

Aga mengedikkan bahunya. “Cuma mau kumpul sama saudara laki-laki gue, karena sepertinya gue belakangan ini hangout sama lo terus. It’s fun, girl, but not good for my public image.”

Indri berdecak. “Jadi ini masalah public image. Kapan Mas Aga nggak ada udang di balik batu?”

Aga melemparkan penghapus padanya, yang dengan telak mampir di kening satu-satunya anak perempuan Adiwangsa itu. “Bukan masalah public image, Ndri. Gue harus sadar kalau gue masih punya saudara selain elo. Lagipula Alex baru balik dari Surabaya kemarin, dan gue sudah terlalu lama nggak chill out sama dia.”

Mas Alex is fine, but Mas Nata?” Indriana menaikkan sebelah alisnya. “Seriously, Mas? Lo nggak pernah akur sama Mas Nata bahkan sejak gue bisa mengingat.”

“Mas Nata juga saudara gue.”

Statement of the year from the notorious Aga Candrasa Adiwangsa.

“Anabela Indriana Adiwangsa,” Aga menggeram memperingatkan. Indri mengangkat tangannya tanda menyerah.

“Tapi…. cuma mau chill out sama Mas Nata dan Mas Alex? Nggak ada tujuan lain?”

Why, no. Gue rasa kalau gue bisa sedikit lebih akrab sama Mas Nata dan Alex–bukan hanya karena kebutuhan imej publik–Adiwangsa Group bisa sedikit lebih solid,” jawab Aga. “Dan gue CEO Adiwangsa Group sekaligus saudara mereka, gue butuh mereka sebagai aset perusahaan sekaligus sebagai keluarga.”

“Keluarganya lo sebut paling terakhir, Mas.”

Shut up.” gerutu Aga. “Berhenti menanggapi tongue-slip gue dan memutarbalikkannya jadi seolah-olah gue ini orang jahat yang punya rencana terselubung.”

“Oke.”

“Indriana.”

What?”

Belum sempat Aga membalas ucapannya, sebuah suara ketukan terdengar di pintu ruangannya. Aga dan Indri menengok tepat di saat Alex memunculkan kepalanya ke dalam ruangan, merengut curiga pada apa pun yang ia lihat di dalam ruangan kakaknya itu.

“Gue nggak pulang di saat lo habis kejeduk sesuatu kan, Mas?” adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Aga memutar bola matanya. “Adik-adik gue harus belajar bilang ‘halo’ sebelum bicara hal yang lain,” desahnya. “Masuk, Lex. Duduk sini.”

“Nggak sebelum gue yakin lo nggak kejeduk sesuatu atau dirasuki alien,” jawabnya kekeh sambil tetap berdiri di ambang pintu. Indriana tertawa dan mengacungkan jempol ke arah Alex, membuat Aga dongkol; terlepas dari segala protes Indriana soal keeksentrikan gaya putra ketiga keluarga Adiwangsa itu, mereka bisa jadi kompak soal meledeknya–atau bagi Indri meledek, sementara Alex hanya terbawa sindrom lidah tajam yang turun-menurun di genetik keluarga Adiwangsa.

“Gue nggak kejeduk apa pun, Lexie. Masuk sini.” Aga mengerling kartu putih yang ada di tangan adiknya dan tersenyum. “Gue lihat lo udah baca undangan gue?”

Yeah,” jawab Alex, akhirnya beranjak masuk dan duduk di kursi di samping Indriana. “‘Guys Night tonight at 9 p.m. Will be fun!’ blah-blah-blah, weird scribble, officially yours; cheap card, no glitter whatsoever, which is good but less artistic–” di sini Indriana memandang Aga seakan bilang, ‘See?‘ yang telak diacuhkan oleh yang bersangkutan. “–no meeting details, which is stupid, and last, signed so formally, which is as plain as a bussiness card yet in here says Guys Night,” Alex menunjukkan kartu putih yang dimaksud dan menaikkan alisnya. “Lo mau hangout atau mau rapat, Mas?”

No wonder Mas Aga nggak punya pacar lagi setelah Mbak Sandra,” sambung Indriana.

“He’s as plain as the plainest stick.”

Indriana tertawa dan ber-highfive dengan Alex, yang tetap dengan wajah datarnya; ekspresi stoik adalah sebuah keharusan dalam spesies laki-laki keluarga Adiwangsa.

Shut up, Lexie, lo juga nggak punya pacar sekarang.”

“Karena gen Y di keluarga Adiwangsa itu feromonnya dikunci pakai gembok buatan neraka,” celetuk Indriana, yang langsung dihadiahi pelototan oleh kedua kakaknya.

“Lebih baik daripada gen X keluarga Adiwangsa yang selalu mencari kadar Y rendahan.”

Ketiga orang yang ada di dalam ruangan segera mencari asal suara, yang ternyata bersumber dari Nata, putra sulung keluarga Adiwangsa. Vice-CEO Adiwangsa Group itu tanpa basa-basi masuk ke ruangan dan mengedikkan kepala pada adik-adiknya. Semuanya langsung berdiri begitu melihat tanda yang diberikannya; semua, kecuali Aga yang masih santai duduk di kursinya dan hanya memberi sebuah anggukan kepala untuk menyapanya.

“Selamat siang, Mas,” ujar Aga kaku, senyum di bibirnya terpasang ketat. “Ada perlu sama saya?”

“Ada kartu jelek–” Indriana dan Alex berusaha keras menahan senyum sementara Aga merengut tidak terima. “–yang menyatakan kalau akan ada Guys Night whatsoever nanti malam. Kerjaan kamu?”

Aga mengangguk. “Maaf kalau kartunya jelek,” ujarnya dengan nada sinis. “Saya nggak sempat bikin yang lebih…… artistik.”

“Ada tujuan apa tiba-tiba bikin hal seperti ini?” tanya Nata, mengabaikan nada sinis adiknya.

“Apa akan ada publikasi media atau semacamnya?” sambung Alex, kini sudah berdiri di samping Nata.

“Nggak. Saya cuma mau kumpul sama Mas Nata dan Alex. Kalian bisa, kan?”

“Nggak.” jawab Nata dan Alex bersamaan. “Kita sedang dalam masa tengah proyek, Ga,” tambah Nata.

“Cuma malam ini! Besok weekend, kan?” protes Aga. “Lagipula Alex baru pulang dari proyek di Surabaya, kita bisa bikin pesta selamat datang buat Alex dan main game semalaman!” Aga menoleh dan tersenyum pada adiknya. “How’s that sound, Lexie?”

No, Aga,” ujar Nata dengan nada tak mau diganggu-gugat. “Kita bukan anak kecil lagi yang perlu pesta untuk hal-hal remeh. Alex sudah sering pulang dari proyek di seluruh Indonesia dan proyek Surabaya ini bukan pengecualian. Daripada bermain game seperti anak kecil pengangguran, lebih baik kerjakan tugas-tugas kalian.” Nata mengedikkan kepalanya ke arah dokumen di atas meja Aga. “Saya nggak ingat sudah terima approval kamu untuk masalah pendanaan proyek Bintaro. That due for next Monday, I remind you.”

Gaming is not a child play, Mas,” Aga berusaha membela Alex yang mulai berwajah murung di balik bayangan Nata.

It is,” balas Nata sebelum menatap Alex tajam. “Karena itu ada seseorang di keluarga Adiwangsa yang prestasinya tidak lebih dari sekedar main-main.”

“Mas Nata!” Indriana menegurnya.

“Saya bicara kenyataan,” ujar Nata. “Kalau bukan karena hobi anak-anaknya, otak Alex bisa digunakan untuk memaksimalkan proyek-proyek yang sekarang gagal.”

“Proyek-proyek itu gagal bukan karena saya, Mas!” Alex mulai protes, tidak terima disalahkan atas sesuatu yang bukan karena salahnya.

“Benar, Mas. Proyek Thamrin dan lainnya gagal bukan karena Alex,” sambung Aga.

“Jangan sok jadi pahlawan, Mas Aga,” desis Alex tiba-tiba. “Yang bikin proyek Thamrin gagal itu karena Mas nggak teliti sebelum approve pendanaannya!”

That’s true, too,” Nata mengangguk membenarkan. “Makanya sekarang periksa baik-baik proposal pendanaan proyek Bintaro, jangan malah bikin pesta.”

Aga menatap tidak percaya ke arah kedua saudara laki-lakinya. “What, now everything is my fault? Fuck you, Alex, gue cuma mau berusaha menyatukan keluarga Adiwangsa! We’re siblings, for god sake, nggak seharusnya saling salah-salahan masalah proyek gagal yang sudah terjadi beberapa tahun lalu!”

Being all fine and considerate in mistakes is just for incompetents,” decak Mas Nata. “Keluarga Adiwangsa bukan solid karena being all touchy-feely, Ga, tapi karena kompetensi dan prestasi.”

“Jadi kita cuma akan akrab kalau ada media yang merekam?”

“Saya nggak bilang begitu. Saya cuma bilang kalau kita tidak dididik untuk lengah di saat yang tidak seharusnya.”

So my good idea is horrible, actually,” Aga tertawa pahit dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. “Baiklah, lupakan saja. Approval-nya akan saya berikan sebentar lagi, Mas. Out, now, all of you.”

“Jangan seenaknya perintah-perintah, Aga,” geram Nata. “Saya lebih tua, ingat posisimu.”

Saya CEO di sini,” gertak Aga balik. “Ingat posisi Mas sendiri. Out. All of you!

Nata berdecak dan melemparkan kartu undangan Aga ke atas meja sebelum berjalan keluar ruangan, sementara Alex memasukkan kartu itu ke dalam saku jasnya dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

“Tiga testoteron, Mas.” Indriana buka suara setelah kedua kakaknya pergi. “Tiga testoteron Adiwangsa, lebih tepatnya.”

Aga mendesah berat sebelum melemparkan sebuah map dokumen dengan keras ke atas meja. “Fine. Kalau mereka nggak bisa dikasih cara halus, gue bakal masukin proyek ini dengan cara kasar.”

Indriana mengerjap beberapa kali sebelum menatapnya tidak percaya. “Jadi ternyata Guys Night itu diadakan karena Mas mau bikin Mas Nata dan Mas Alex menyetujui proyek bawaan Mas Aga? It’s all back to bussiness?”

“Adiwangsa Group butuh proyek gue,” Aga mengedikkan bahunya acuh. “Mas Nata dan Alex juga termasuk board member perusahaan ini, gue butuh persetujuan mereka, and family doing bussiness in family way.”

“Gue nggak pernah mengerti jalan pikiran kakak-kakak cowok gue ini,” Indriana menggeleng pasrah sebelum kembali duduk di tempatnya semula. “Gue juga shareholder dan board member di sini, Mas. Apa lo juga sudah menyiapkan rencana untuk membicarakan proyek ini sama gue?”

Aga nyengir lebar. “I have a date night this weekend at your favorite restaurant, Sugababe.”

I can’t believe you!” erang Indriana frustrasi. “Nggak, makasih. Gue ada kencan sama Dani weekend ini.”

Peasant.

“Stop, Mas, lo adalah satu-satunya orang yang nggak gue harapkan untuk mengejek Dani-and-his-so-peasantry. Mas Nata, wajar, dia itu Adiwangsa garis keras, tapi bukan Mas Aga.”

Aga tersenyum kecut sebelum meraih cangkir kopinya. “Lo nilai gue terlalu tinggi, Dek. Siapa bilang gue bukan Adiwangsa garis keras? Siapa juga yang kencan sama orang dengan nama plain macam Dani?”

Indri mendengus. “Just because your boyfriend’s name is unusual?

Aga tersedak. “Excuse me?”

“Siapa namanya? Wira? Wari?”

“Wara?” Aga melotot horor. “Kenapa jadi bawa-bawa Wara? And boyfriend…. what the hell?

“Ah, Wara!” Indri menepukkan tangannya ke atas meja. “Blah. Jangan kira gue buta, Mas, belakangan ini lo sering keluar sama yang namanya Wara itu. Dan gue pernah lihat waktu dia dengan santainya melenggang di kantor ini dan masuk ke kantor Mas tanpa memedulikan satpam.”

Aga menghela napas panjang sambil berusaha membersihkan dasinya yang terkena semprotan kopi saat ia tersedak tadi. “Gue nyewa jasa dia.”

Indri melotot kaget. “He’s a prostitute?

Dan Aga harus tersedak lagi. “He’s not! Kenapa otak lo selalu mengarah ke sana? Dia jurnalis, Ndri, dan gue hire dia!”

“Yah, habisnya lo kelihatan bersemangat tiap gue memergoki lo sama dia,” jawab Indri cuek. “Dan lo nyaris nggak pernah keliahatan sesenang itu, bahkan sama gue. Wajar, kan, kalau gue merasa akhirnya Mas gue yang satu ini punya taksiran?” Gadis 24 tahun itu nyengir lebar. “Lagipula lo butuh apa sama jurnalis, by the way? Lo benci orang media, Mas.”

“Gue nggak naksir siapa pun, dan hubungan gue dan Wara sama sekali nggak seperti yang lo pikirkan. Gue butuh dia buat investigasi sesuatu di perusahaan saingan, that’s it–and laundry that, please, that’s my favorite tie.” Aga melemparkan dasi yang kini sudah tak bisa terselamatkan lagi dari noda kopi kepada adiknya. “Uang lo, karena lo yang bikin gue kesedak dengan pemikiran aneh lo itu.”

Indri memutar bola matanya, tapi tetap mengambil dasi sang kakak. “Sejak kapan lo suka main investigasi perusahaan saingan? Gue kira lo udah kapok setelah berusaha menyelidiki kasus Mas Nata–ugh! Can’t you not just change clothes in front of me? Take pity on my virgin eyes, Mas!” Indri segera memutar kursinya ketika Aga mulai membuka kancing kemejanya yang juga telah terkena noda kopi.

“Gue pakai kaos di balik kemeja, you silly,” Aga tertawa seraya melempar kemeja kotornya dan meraih setelan cadangan dari gantungan di sampingnya. “And really, gue bilang gue juga Adiwangsa garis keras, Sugababe. Gue bisa melakukan apa pun untuk memajukan Adiwangsa.”

“Sampai sok-sokan bikin Guys Night padahal tujuannya cuma bisnis,” desah Indri. “Kapan juga Mas Aga nggak ada udang di balik batu? Kalau ada yang percaya sama rencana manisnya Mas Aga berarti orang itu bodoh.”

“Hei, jangan ngomong jelek soal kakakmu sendiri, di depan orangnya langsung lagi!” Aga memukul pelan puncak kepala Indri dengan pulpen. Sebelum Indri berhasil membalas, telepon kantor Aga berdering dan dengan tawa kemenangan Aga menghindar dari usaha balasan Indri untuk menekan tombol loudspeaker. “Ya, Rin?”

“Gita, Mas, sudah ganti lagi resepsionis kita,” koreksi Indri dengan senyum mengejek, menertawakan kebiasaan buruk kakaknya yang paling payah dalam mengingat nama-nama bawahannya di kantor.

Aga mengerjap sejenak. “…….ya, Git?”

“Ada Pak Wara di lobby, Pak. Beliau bilang ingin bertemu Pak Aga masalah laporan bulanan.”

Indri segera menaikkan alisnya tertarik dan tersenyum menggoda sebelum beranjak dari kursinya dan mencium Aga di pipi. “Gue mau balik ke ruangan gue. Have fun investigating…. whatever you’re investigating, Mas!

“Indriana!” Aga berteriak memperingatkan, tapi hanya dibalas dengan tawa dan lambaian tangan dari yang bersangkutan sampai ia menghilang di balik pintu. Aga menggeleng dan mendesah sebelum kembali memusatkan perhatian pada teleponnya. “Suruh Wara langsung naik ke ruangan saya, Git. Terima kasih.”

Aga memijit keningnya dan menutup matanya sementara menunggu Wara datang. Kalau di dunia ini ada satu hal yang paling tidak bisa ia pikirkan solusinya, itu adalah cara berdiplomasi dengan sesama pemilik gen Adiwangsa.

~*~

Omake

“Tumben ruanganmu kuat sekali bau kopinya,” ujar Wara seraya mengernyitkan hidungnya seperti anak anjing yang sedang mengendus bau majikannya. “Biasanya selalu lebih kuat bau citrus. Kamu habis numpahin kopi atau bagaimana?”

Yeah, kinda,” jawab Aga tidak fokus sambil membolak-balik halaman print out yang diserahkan Wara padanya. “Gara-gara komentar aneh Indriana tentangmu.”

“Tentang saya?” Wara menaikkan alisnya penasaran. “Apa itu? Saya boleh tahu?”

Ada sedikit semburat merah timbul di sekitar tulang pipi Aga, pandangannya tetap tertuju pada dokumen. “Bukan hal yang penting.”

“Sepertinya hal yang cukup penting kalau sampai bikin kamu menumpahkan kopi kemana-mana dan bikin mukamu semerah itu,” Wara merengut dan seakan tengah memikirkan sesuatu. “Apakah memalukan? Apa saya menimbulkan kesan yang jelek pada saudaramu?”

Aga terbatuk sekali sebelum mengedikkan bahunya, kelihatan tidak nyaman membicarakannya. “Indriana mengira saya menyewamu…. sebagai pekerja seks.”

Wara terdiam cukup lama di tempatnya sementara Aga berusaha keras memfokuskan perhatiannya pada dokumen di hadapannya. Setelah beberapa menit berlalu, Wara mengedikkan bahunya acuh.

I could go for free, if you want.

Kali ini Aga bersyukur kopinya telah tumpah semua sebelum Wara datang–dan tidak digantikan dengan kopi baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s