[Spin-Off] Suburbs

Title: Suburbs

Writer: Yuu
Characters: Aga Adiwangsa/Warangka
Rating: T

A/N: Crosspost dari LJ Yuu. Dibuat pra-terbit, jadi beberapa hal mungkin tidak relevan dengan buku. Meskipun demikian, cerita ini mengandung MAJOR SPOILER untuk buku selanjutnya.

———-
Satu hal yang belakangan ini sering Aga sadari adalah kenyataan bahwa malam kini terasa semakin terang. Dulu, ketika ia masih kanak-kanak, pada jam 8 malam sudah tak ada lagi orang yang lalu-lalang di jalanan kecuali tukang nasi goreng atau tukang sate yang sering menjadi langganannya, lampu beberapa rumah telah padam, dan tanda-tanda kehidupan telah memudar di sekitarnya. Pada masa itu ia biasanya akan duduk di tempat tidurnya dan memandang keluar, ke arah galeri, dengan suatu perasaan harap-harap cemas, antara takut dan penasaran mengenai sosok-sosok yang sering ia lihat berseliweran di dalam galeri, sosok yang menurut kakeknya hanyalah imajinasinya belaka dan yang menurut Mas Nata adalah segerombolan jin ifrit yang akan menculiknya ke sarang mereka di goa gelap kalau ia nakal dan tidur terlambat.

Berbeda dengan masa kanak-kanaknya, kini malam tak lagi terlihat misterius dan mistis. Cahaya-cahaya artifisial menerangi seluruh jangkauan visualnya, membuat dunia, yang bahkan tengah memasuki pukul satu dini hari, bagaikan sebuah festival tanpa henti, denyut kehidupan terus bergerak, abadi dalam keterbuatannya. Ada kalanya Aga menyenangi keabadian artifisial ini, terutama ketika ia harus lembur dan memasuki fase bosan setengah mati; Ia akan menengokkan kepalanya keluar jendela kantor yang membentang dari lantai hingga langit-langit dan membiarkan pikirannya larut dalam gemuruh aktivitas yang terpantau dari tempatnya, memandanginya tanpa henti hingga kebosanannya hilang. Namun ada kalanya juga ketika semua keramaian dan cahaya itu justru membuatnya merasa jengah, seperti sekarang, saat ia tengah melalui sebuah fase moodshift yang menurutnya paling aneh yang pernah terjadi pada dirinya. Hingga sejam yang lalu ia masih baik-baik saja, masih menjadi seorang CEO sibuk yang (secara kebetulan) bertanggungjawab atas segala tugas-tugasnya, tapi begitu ia menengok keluar jendela dan memandangi kehidupan yang bergulir di luar kantornya, ia tiba-tiba merasa begitu terlingkupi, semua emosinya membuncah di seluruh tubuhnya hingga rasanya ia bisa meledak hanya dengan satu tusukan jari yang biasa diberikan Wara atau Lingga.

Insting pertamanya adalah mencari pertolongan pertamanya: Wara. Biasanya hanya Wara yang mampu membuatnya tenang di saat emosinya sedang tidak menentu. Wara adalah tranquilizer-nya, karena itulah nomor Wara ia simpan di panggilan cepat pertama.

“Yo, Bos?”

Suara Wara di seberang salurang telepon terdengar jernih tanpa kabut kantuk, meskipun waktu sudah menunjukkan hampir 10 menit lewat dari jam satu dini hari. Aga tersenyum. Orang satu itu memang burung hantu malam sejati.

“Hey, baby.”

“Hey baby to you, too,” Wara terkekeh pelan. “‘Sup? Miss me?

“Mm… bisa jadi? I have this urge to hear your voice.”

Wara terdiam selama beberapa saat sebelum kembali bicara. “Ada apa, Ga?”

Aga merebahkan tubuhnya di sandaran kursi dan kembali memandang ke luar jendela. “Rasanya sekarang dimana-mana kalau malam silau, ya?”

Terdengar suara dengusan geli. “Silau?”

“Mm-hmm,” gumamnya, mengabaikan dengusan geli kekasihnya. “Rasanya dunia jadi seperti…. nggak pernah istirahat–kamu sedang ada di rumah?”

“Ya.”

“Apa yang kamu lihat dari balkon apartemen kita? Silau, kan?”

Ada suara bergemerasak di seberang, dan Aga tahu bahwa Wara sedang berjalan menuju balkon apartemen mereka–apa yang membuat Wara melakukan perintahnya tanpa bertanya seperti biasanya, ia juga tidak tahu. Ia membelikan apartemen itu untuk ulang tahun Wara yang ke-29. Awalnya Wara menolak menerima hadiah yang terlalu besar, terutama untuk hari ulang tahunnya yang sejarah eksistensinya tidak jelas, tapi begitu Aga dengan malu-malu mengakui bahwa ia ingin tinggal bersamanya di apartemen itu, Wara segera terdiam dan masuk ke dalam apartemen dengan pembawaan yang seakan menyatakan bahwa ia telah bertahun-tahun tinggal di sana.

“Jakarta memang bikin silau,” gumam Wara di telepon setelah jeda agak panjang. Aga membayangkannya tengah berdiri di balkon apartemen dan memandang ke arah hingar-bingar pusat kota, sebuah kelebihan yang ditawarkan oleh posisi apartemen mereka. “Karena itu saya nggak terlalu nyaman kalau harus berada di Jakarta dalam jangka waktu lama.”

Dan kenyataannya kamu masih tetap bersama saya hingga sekarang, di Jakarta. “Bukannya semua tempat seperti itu? Bikin silau?”

“Ada tempat-tempat yang memutuskan untuk beristirahat di tengah malam, tahu. Seperti misalnya, desa-desa kecil, mereka–”

Aga berhenti mendengarkan apa pun ucapan Wara setelahnya. Emosi-emosi yang bercampur aduk di tubuhnya kini berturbulen makin parah, memelintir dan mendesak di seluruh tubuhnya. Ia akan meledak, ia tahu itu, tapi sama sekali tak tahu kenapa dan bagaimana. Ia memejamkan matanya dan berusaha menarik napas untuk menenangkan diri, menghilangkan semua stimulus kecuali suara Wara.

“Bos?”

Ini tidak akan berhasil. Suara Wara saja tidak akan cukup, tidak pernah cukup, tapi bahkan sekarang ia tak tahu lagi apa yang cukup untuknya.

“Wara.” Ia mengernyit mendengar suaranya sendiri yang menggeram rendah layaknya hewan yang terluka. Ia tidak separah itu, kan?

“Aga?” suara Wara terdengar memiliki campuran nada panik dan takut. “You okay there? Aga?”

Aga segera memutus sambungan telepon mereka tanpa peringatan dan melakukan latihan pernapasan yang pernah Wara beritahu padanya. Wara tidak boleh sampai tahu keadaannya yang memburuk. Pria itu telah menyarankan semua hal yang ia tahu untuk membantunya mengatasi moodshift-nya yang makin lama makin tak terprediksi bahkan oleh penderitanya sendiri. Jika ia bilang padanya bahwa semua caranya tidak sanggup membuatnya tenang, ia yakin Wara akan segera pergi ke psikiater terdekat untuk memintakan resep Valium untuknya, dan obat-obatan adalah jalan yang selamanya tidak ingin ia tempuh.

Tapi semakin lama ia mencoba untuk bernapas, semuanya terasa semakin menyempit dan menghimpitnya–paru-parunya, tenggorokannya, ruangannya, dunianya, semua–hingga insting primalnya menendangnya dengan satu keinginan mutlak: survival.

Ia harus keluar dari semua ini.

Insting itu dengan cepat menguasainya dan mengontrol penuh tubuhnya, membuatnya baru menyadari akan apa yang ia lakukan ketika ia telah menemukan dirinya berdiri di depan mobilnya, pasir pantai di bawah kakinya, siluet deburan ombak yang menghitam dalam pelukan malam di hadapannya, dan aroma garam mengalir di sekitarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mendapati kegelapan mendominasi jarak pandangnya kecuali beberapa kerlip sinar lampu di kejauhan. Di mana ia sekarang? Pantai, itu jelas, tapi pantai mana? Ancol? Anyer? Pangandaran? Ia tak mungkin pergi terlalu jauh, kan?

Ia mengerling jam tangannya; kerlipan fluorescent di jarum jamnya menunjukkan beberapa menit lewat dari pukul dua dini hari. Ancol, kalau begitu. Ia tidak mungkin pergi ke Anyer hanya dengan waktu kurang dari satu jam, sehebat apa pun mobilnya.

Ia mendesah dan beranjak duduk di atas kap mesin mobilnya, pandangannya menerawang ke arah lautan yang terus menghantarkan ombak tanpa henti. Belakangan ini ia sering melakukan sesuatu secara refleks tanpa pernah membiarkan otaknya mempertimbangkan konsekuensinya, dan ia mulai takut kehilangan dirinya sendiri. Beberapa waktu lalu ia bahkan pernah menjadi terlalu marah hingga melampiaskannya pada Wara; dan yang ia tahu berikutnya, Wara sudah terikat di tempat tidur dengan darah di antara kedua kakinya, kulit yang memerah di sekujur tubuh, dan ekspresi kesakitan yang berusaha disembunyikannya. Kejadian itu juga menjadi salah satu alasan kenapa ia tidak ingin Wara mengetahui kondisinya jika ia sedang tidak bisa mengontrol dirinya. Ekspresi Wara waktu itu sukses menghantui pikirannya, dan walaupun Wara hanya mengedikkan kejadian itu seakan hal itu bukan masalah besar, dan bahkan mengakui ia menyukai sensasinya, tapi ada bagian dalam dirinya yang mulai merasa takut, pada dirinya dan pada hal-hal yang bisa ia lakukan saat ia kehilangan kontrol, dan bagian itu membuatnya menolak untuk berhubungan dengan Wara sejak saat itu. Kalau ada hal di dunia ini yang ia takutkan selain kehilangan Wara, maka itu adalah melihat pria itu terluka karenanya, walaupun hal itu takkan pernah ia ungkapkan langsung pada yang bersangkutan; ia bisa membayangkan Wara mengamuk karena diperlakukan seperti wanita atau benda pecah belah.

Dengan sebuah gelengan kepala, ia menghilangkan semua pikiran dari kepalanya dan membiarkan tubuhnya terbaring di atas kap, menyilangkan tangannya di balik kepala dan menutup matanya, membiarkan suara deburan ombak meredam gulungan emosi dalam dirinya menjadi sebuah deruman halus; tidak menghilang, tapi setidaknya lebih tidak berbahaya, dan ia tidak lagi merasa ingin meledak. Mungkin ada baiknya ia secara impulsif pergi dari kantor, mungkin tubuhnya secara otomatis berusaha menstabilkan kondisinya sebelum ia benar-benar melakukan penghitungan mundur untuk meledakkan diri. Sekarang ia bisa sedikit mengerti alasan Wara memutuskan untuk selalu bepergian.

Entah sudah berapa lama ia berbaring di sana, dengan mata tertutup, tapi ia segera membuka matanya ketika ia mendengar suara deruman mesin yang familiar bergerak mendekatinya sebelum berhenti tepat di samping mobilnya. Ia menengokkan wajahnya ke samping untuk melihat Wara beranjak turun dari motornya seraya melepas helmnya. Walaupun ia bukanlah penggemar motor roda dua, tapi ia selalu mengapresiasi Wara dan motornya; fotografer itu selalu terlihat pantas di atas motor, kebalikan darinya yang lebih cocok dengan mobil. Aga melihatnya berdiri di samping motornya, tak beranjak untuk mendekatinya dan justru memilih untuk mengarahkan pandangannya pada laut yang gelap sambil sibuk membenahi jaket coklatnya–jaket favorit mereka berdua; Wara menyukai kepraktisannya dan Aga menyukai model dan baunya yang sangat khas Wara.

“Saya kira menghilang tiba-tiba adalah kebiasaan saya,” ujar Wara sebelum menegok padanya; rengutan di wajahnya tak mampu Aga terjemahkan artinya. “Kamu mulai ketularan saya?”

Aga tidak menjawab selama beberapa saat, hanya menatap sosok kekasihnya dengan pandangan menerawang, sebelum ia mendesah dan kembali memejamkan matanya. “Bagaimana kamu bisa tahu saya ada di sini?”

Wara mengedikkan bahunya. “Saya jadi jurnalis bukan untuk gaya-gayaan.”

Creepy,” gumam Aga, tersenyum. “Saya harus lebih berhati-hati sama jurnalis, terlebih yang punya semacam tracking device untuk mangsa mereka.”

“Oke, saya bohong,” ujar Wara, beranjak duduk di sampingnya, di ujung kap mobil. “Tracking device saya cuma berlaku buat kamu.”

Aga membuka matanya dan menaikkan alisnya. “Jadi kamu mengaku kalau kamu menguntit saya? Have no idea that my boyfriend is a stalker.

Wara memukul pelan lengannya. “Bukan seperti yang kamu pikirkan, tahu. Pertama, kamu tiba-tiba menutup telepon setelah secara random bicara tentang silau, dan kedua, kamu itu anak kota, Ga, kamu nggak mungkin pergi jauh-jauh dari Jakarta tanpa persiapan.”

“Nggak seperti kamu yang bisa pergi ke ujung dunia walau tanpa persiapan, ya.”

Wara memukul lengannya lagi.

“Tapi tetap saja,” ujarnya. “Ada banyak tempat lain yang mungkin saya datangi selain Ancol di Jakarta. Kenapa kamu bisa tahu saya di sini?”

I have this…. gut feeling,” gumam Wara pelan, nada suaranya seketika seakan malu-malu. “That’s… your tracking device.

Glad to know my presence is as easyly detected as with merely a gut feeling.

Wara mengerang frustrasi sebelum ia membenamkan wajahnya di balik kedua tangannya yang bersilang di atas lutut. “Tolong jangan bilang cuma saya yang selalu punya keinginan untuk mencarimu dan kembali ke kamu.”

Aga memandangi Wara sejenak sebelum bangkit duduk dari posisi tidurnya hingga ia benar-benar berada di sampingnya. Ia tahu perasaan Wara, juga apa yang disebutnya sebagai keinginan untuk kembali padanya, karena ia juga merasakannya; sebuah deruman konstan dalam hatinya yang seakan terus ingin memanggil Wara untuk datang padanya. Dulu ia menganggap perasaan itu muncul karena ia mempunyai ketertarikan pada pria itu, tapi sekarang, setelah semuanya jelas mengenai siapa diri mereka dan seperti apa hubungan mereka, ia mulai curiga bahwa perasaan itu hanya lelucon takdir untuknya, bahwa kalau bukan karena memang mereka telah ditakdirkan untuk bersama, Wara bahkan takkan pernah menganggapnya menarik; dan pemikiran seperti itu selalu sukses membuat emosinya kembali berputar ricuh.

Ia kini tak tahu lagi apakah bersama Wara akan membuatnya lebih baik atau justru akan menghancurkannya.

“Kenapa kamu menyusul saya?”

Wara menoleh cepat padanya, seakan tidak percaya kalau ia sampai menanyakan pertanyaan seperti itu. Ia mengerjap dan kelihatan menimbang jawabannya, memandangnya hati-hati. “Karena kamu kedengaran aneh di telepon. Kamu…. nggak apa-apa?”

“Saya nggak pernah menyusulmu kalau kamu pergi.” Yang saya lakukan hanya menyuruhmu tetap tinggal dan marah ketika kamu pergi.

“Karena kamu tahu saya butuh sendiri kalau saya sedang kumat kabur-kaburannya,” gumam Wara, ada sedikit rona merah di wajahnya yang tidak ditangkap oleh Aga karena perhatiannya terarah ke lautan. “Sementara kamu, kamu nggak pernah butuh sendirian, Ga. Kamu selalu butuh orang lain. Kamu butuh disusul.”

Aga tertawa getir. “What am I? Damsel in distress?”

“Um… prince charming in distress?” usul Wara.

Aga mendengus. “Pulanglah, Wara. Saya akan segera pulang kalau saya selesai berpikir di sini.”

“Nggak,” jawab Wara sambil meluncur turun dari mobil dan dengan satu gerakan cepat telah berada di hadapannya, satu tangan diletakkan di samping tubuh Aga untuk mencegahnya beranjak. “Saya nggak akan pulang sebelum yakin kalau kamu baik-baik saja.”

“Saya nggak apa-apa.”

Bullshit.

Aga mendesah. “Kamu mau saya jawab apa? Kamu datang ke sini untuk tahu apakah saya baik-baik saja, kan?”

“Kenapa kamu ke sini?”

“Hanya mampir sebelum pulang.”

“Kenapa teleponnya kamu matikan tiba-tiba?”

Ia terdiam sejenak. “Pulsanya habis.”

“Kalau begitu kenapa kamu nggak angkat telepon saya?”

Aga mengerjap. Wara meneleponnya?

Wara memutar bola matanya. “Figured. Kamu pasti bahkan nggak sadar kalau saya telepon kamu lebih dari lima kali.” Ketika Aga tidak menjawab, ia mendesah lelah dan mengulurkan tangannya untuk menelusur sisi wajah pria di hadapannya. “Ada masalah apa, Ga? Bisa beritahu saya?”

Aga tersenyum. Ia mengambil tangan yang mampir di wajahnya dan menggenggamnya dengan kedua tangan. “Jakarta silau. Saya butuh….” Ia mengedikkan bahunya dan menghembuskan napas gemetar. “Saya butuh tempat yang… nggak terlalu aktif di malam hari, saya rasa. Tempat yang tidak penuh dengan denyut kehidupan. Tempat yang….” Ia terhenti dan segera menggelengkan kepalanya sambil tertawa. “Is that even make any sense?

Wara menatapnya dalam. “Apakah ada hubungannya dengan emosimu lagi?”

Aga menunduk. Ia tertangkap basah. Serahkan pada Wara untuk menebak semua yang ia sembunyikan. “Saya lepas kontrol lagi.”

Wara merengutkan dahinya. “Harusnya kamu pulang.”

“Saya akan melampiaskannya ke kamu lagi,” ujarnya. “Ingat waktu terakhir kamu terikat di tempat tidur? Saya tahu saya berbuat kelewat batas, tapi… saya kehilangan kontrol dan tidak bisa menghentikannya.”

“Bukannya saya bilang saya nggak apa-apa waktu itu?”

“Kalau saya nggak bisa membohongimu, kamu juga nggak bisa bohong sama saya, Wara.”

Wara mengalihkan pandangannya sejenak. “Kamu tahu saya bermaksud membantu.”

“Kamu nggak membantu apa pun kalau kamu melakukannya dengan cara membiarkan dirimu sendiri jadi tumbal kemarahan saya.”

“Tapi saya–” Wara menghentikan ucapannya sendiri dan mengerang frustrasi; berbeda dengannya yang justru akan diam jika frustrasi atau marah, Wara selalu mengeluarkannya dalam sebuah erangan kesal. “You are always difficult to handle.

Aga tersenyum. “Maaf?”

“Stop, Ga,” desah Wara berat. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya, menatap pria keras kepala itu dengan tajam. “Berhentilah mengasihani dirimu sendiri. Saya capek berdebat dengan semua kecemasanmu.”

Aga tidak menjawab. Ia tahu Wara berusaha memancingnya marah agar ia bisa terbebas dari badai emosinya, tapi ia takkan melakukannya, tidak selama Wara masih berada di sekitarnya. Deruman emosi di tubuhnya mulai melingkupi dan menenggelamkannya, dan ia membiarkannya; setidaknya tenggelam lebih baik daripada terjebak di tengah turbulen yang mendesak dan siap meledakkannya kapan pun. Mungkin pergi ke laut memang bisa membantu mengatasi masalah dalam dirinya.

“Aga?” suara Wara memantul jauh dalam kesadarannya. Ia mengalihkan perhatiannya pada fotografer itu, melihat kecemasan berkilat cepat di mata gelapnya–gelap, terlalu gelap; bisakah ia tenggelam dalam lautan gelap di bola mata itu? Yang ia inginkan sekarang ini hanyalah tenggelam dalam Wara dan tetap di sana selamanya, tanpa perlu memikirkan apa pun, tanpa mempedulikan apa pun.

Tanpa perlu ada yang harus mati lagi.

Ia menghela napas dan merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia mendorong Wara menjauh dan berusaha merapatkan tubuhnya ke bentuk pertahanan diri paling primitif manusia; meringkuk layaknya bayi dalam kandungan, berusaha mendapatkan rasa aman dengan memblokir semua stimulus yang mungkin memicu ketidakseimbangan untuk berkuasa dalam dirinya. Ia tidak boleh meledak, dan ia jelas tidak boleh memikirkan untuk menyeret Wara dalam masalahnya sendiri; kalau ia harus tenggelam, ia akan tenggelam, tapi tanpa Wara, ia tidak boleh melibatkannya.

Aga, say something.” Wara merendahkan tubuhnya agar ia bisa melihat wajah Aga dalam level yang setara, sekaligus berusaha menghentikan gerakan tubuhnya makin rapat menutup dengan cara menyelipkan tubuhnya sendiri di antara kaki dan tangan yang berusaha menyatu. “You scare me there, baby.”

Aga menutup matanya dan menarik napas terputus saat Wara melingkarkan lengannya di sekitar tubuhnya, membuat deruman emosinya perlahan memudar hingga menjadi sebuah percikan kecil di permukaan air yang terasa jauh, sekaligus mengangkatnya dari perasaan kebas yang berusaha dibangun dinding pertahanannya. Ia mengeraskan rahangnya demi menjaga agar sebuah gerutuan yang telah menggulung di ujung tenggorokannya tidak terlepas. Kehadiran Wara selalu membuat dinding pertahanannya runtuh tanpa ia tahu bagaimana cara mempertahankannya; sampai sekarang ia masih belum bisa memutuskan apakah hal itu baik atau buruk baginya.

Ia mendengar Wara memanggilnya sekali lagi sebelum sebuah kehangatan melingkupi bibirnya. Ia mendesah dan balas menarik tubuh di hadapannya agar mendekat padanya, membiarkan Wara mengambil alih kendali yang selama ini selalu dengan keraskepala ia jaga, membiarkan Wara membawanya ke mana pun ia ingin membawanya. Setelah beberapa saat, ia merasakan kehangatan itu menghilang dan ia membuka matanya; Wara menatapnya dengan sebuah ekspresi yang terlalu bercampur aduk hingga tak bisa ia terjemahkan satu-persatu–kemarahan, kebingungan, kecemasan, rasa putus asa, dan…. kesedihan? Aga berusaha membenahi apa pun sikapnya yang membuat ekspresi itu muncul di wajah Wara dan tersenyum untuk memastikan kekasihnya bahwa ia baik-baik saja, tapi ia sadari bahwa tubuh dan pikirannya terlalu berat dan lelah, dan kehadiran Wara telah menahan dindingnya untuk kembali terbangun; maka ia tak bisa melakukan apa pun selain membiarkan Wara melihat segala kekacauan dalam dirinya, terbuka dan menggigil di tengah dinginnya dunia yang terbentuk dalam pikirannya.

“Akan ada saatnya…” gumamnya pelan, nyaris mendekati bisikan, namun ia yakin Wara bisa mendengarnya dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat. Ia menatap mata gelap di hadapannya dan kembali menarik napas gemetar. “Akan ada saatnya…. Waktu di mana saya akan kehilangan semuanya.”

Wara menatapnya lama, seakan mencarinya, sebelum sebuah ekspresi melintas di wajahnya; ekspresi tak terdefinisikan yang sepertinya sering muncul di wajahnya belakangan ini, dan Aga sudah terlalu lelah dengan semua masalahnya untuk mulai meneliti dan memberi ekspresi-ekspresi itu nama yang layak. Ia mengalihkan pandangannya sejenak dan menggigit bibir bawahnya, seakan berusaha keras menabahkan dirinya–tapi menabahkan diri dari apa, Aga tidak ingin mengetahuinya–sebelum secara perlahan ia mempererat pelukannya dan meletakkan kepalanya di bahu Aga.

“Kamu–Apa ada tempat yang mau kamu datangi?” bisiknya kemudian; ada getaran dalam suaranya yang tertangkap oleh telinga Aga, dan rengkuhan tangan di punggungnya terasa begitu putus asa. “Saya bisa antarkan kamu ke mana pun, hanya–Aga, please–jangan pergi sendiri.”

Ia merasakan keinginan untuk tertawa yang ia tahan sebisa mungkin. Bagaimana mungkin di dunia ini ada seseorang yang bisa dengan mudah mengaduk-aduk hatinya dan membacanya semudah membaca buku alfabet milik siswa taman kanak-kanak? Bagaimana mungkin orang ini bisa begitu mengerti dirinya di saat ia sejak awal selalu bergulat dengan segala misteri dari seseorang yang bernama seperti sarung keris? Apa yang harus ia lakukan dengan pria satu ini selain berusaha mempertahankannya terus di sisinya?

Ia menyusupkan tangannya ke sela helaian ikal yang familiar baginya dan membelainya lembut, tapi Wara justru makin mengeratkan cengkeramannya, seakan hal yang ia lakukan justru makin membuatnya percaya bahwa hal buruk akan segera terjadi dan ia membutuhkan ikatan yang lebih kuat. Aga mendesah dan terus membelai rambut kekasihnya, kehabisan akal untuk membuat pria itu melepaskan pelukannya.

“Akan ada saatnya saya harus pergi tanpa kamu.”

Tubuh Wara bergetar dalam pelukannya, dan ia merasakan sebuah pelintiran kuat di sudut hatinya karena telah menyeret orang yang paling penting baginya ke dalam segala kerumitan pemikirannya–dan masalahnya–tapi suka atau tidak, Wara harus menyadarinya; Wara selalu mengaduk-aduk perasaannya untuk mencari tahu mengenai satu kenyataan ini, dan sekarang, saat Aga telah memberikannya, ia harus menyadarinya dan menerimanya. Ketika sebuah helaan napas yang bergetar menyapu sisi lehernya, Aga balas mengeratkan pelukannya; ia berusaha menahan Wara di dunia kewarasan, agar pria itu tidak tenggelam bersamanya, karena ia merasakan dirinya kembali tenggelam sedikit demi sedikit, dan ia tahu seberapa kuat pun Wara berusaha menariknya, akan ada saatnya ketika kekuatan Wara saja takkan cukup untuk membebaskannya; karena itu sebisa mungkin ia akan menyelamatkan Wara, menjaganya agar pria itu tetap berada dataran yang solid dan kering, meskipun itu berarti ia harus tenggelam makin dalam karena harus menopang beban tubuh Wara di atasnya.

Ia akan tenggelam, perlahan tapi pasti. Namun ia akan menikmati kebebasannya bernapas selama ia bisa.

Dan ia akan pergi, menjauh dari gemerlap cahaya artifisial dan menenggelamkan dirinya dalam sunyinya tempat-tempat yang memutuskan untuk beristirahat dari seluruh tekanan kehidupan. Tanpa Wara.

Karena akan ada saat di mana Wara takkan bisa lagi menyelamatkannya.

~*~
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s