[Spin-Off] Every Night

Title : Every Night

Writer: Eve

Rating : T

Summary: Satu obrolan singkat tentang menu makan malam yang berakhir dengan perjanjian tak terkatakan

A/N: Crosspost dari blog Eve. Dibuar Pra-terbit, jadi kemungkinan ada beberapa aspek yang tidak sesuai dengan apa yang ada di buku yang telah terbit.

————–

Take out langganan? Bosan. Restoran yang belum pernah dikunjungi? Malaas. Bakso atau nasi goreng lewat? Yeah, right. Gerobak bakso di kompleks apartemen bintang lima. Mie instan? -how about I kill you right now, boss?

———————————————————————————————————————-

“Kalau begitu silakan lewatkan malam ini tanpa dinner,” ujar Aga pada akhirnya dengan nada final, lengkap dengan lidahnya yang sekilas menjulur keluar sebelum akhirnya berbalik dan kembali ke ruang kerjanya, mug kopi berukuran besar di tangan.

Wara menghela napas panjang. Memang agak sia-sia berdebat masalah makanan dengan kekasihnya yang satu itu. Sudah tiga bulan berlalu sejak mereka tinggal bersama dan ia masih gagal memecahkan misteri soal lidah dan perut orang yang bersangkutan. Manusia normal mana yang tidak bosan makan makanan instan atau makanan restoran buatan orang lain yang meskipun bervariasi tapi jatuhnya juga itu-itu saja? Tidak diragukan lagi memang pola makan seperti itu memudahkan kehidupan mereka berdua yang tak mau direpotkan oleh hal-hal yang tak perlu, kesibukan yang mencuri hampir seluruh waktu mereka hingga tak tersisa lagi untuk didistribusikan pada hal-hal kecil seperti waktu makan (jujur saja jika memang ada waktu tersisa ia lebih suka mencari Aga dimanapun laki-laki itu berada dan mendorongnya ke dinding terdekat untuk mencumbunya daripada melakukan hal lainnya). Ia tak pernah memprotes apa yang tersaji di hadapannya, entah itu mie instan polos, nasi kucing, nugget siap saji, sushi mahal, steak daging sapi Kobe… semuanya ia terima dengan legawa dan bersyukur, selama masih bisa memenuhi kebutuhan nutrisinya sebagai manusia yang hidup dan aktif, begitu juga Aga. Namun justru di situlah letak masalahnya sekarang.

Setelah seminggu lebih berada di luar kota untuk job fotografi di luar kota dan hanya hidup dari katering hotel dan makanan buatan tangan orang lain, ia benar-benar membutuhkan sesuatu yang berbeda. Dan ngomong-ngomong soal berbeda, memang ada satu hal yang belum pernah ia coba sebelumnya.

“Boss, tunggu.”

Ia bertolak dari meja makan bulat tempatnya bersandar tadi, mengejar sang CEO Adiwangsa Group yang hampir berbelok dan menghilang di balik partisi kaca buram yang memisahkan ruang makan dan ruang bersantai, meraih pergelangan tangannya dengan cepat. “Bagaimana kalau malam ini saya masak untuk dinner?”

Bagai telah disinkronisasi, gerakan mereka berdua terhenti begitu saja di lorong itu. Mata yang satu  menatap yang lainnya dengan pertanyaan yang belum berhasil tersuarakan. Mungkin hanya satu hal sepele, hanya satu hal yang seharusnya bisa direspon dengan gestur simpel tanpa banyak tanya, namun pada kenyataannya hal sepele itu tetaplah asing. Dan hubungan mereka berdua selalu merespon hal-hal asing tersebut bak sel darah putih, menggelora dan bertahan hingga akhirnya mengaku kalah dan mengakuinya sebagai sebuah familiaritas atau justru menolaknya dengan kekebalan sempurna.

Wara belum pernah memasak untuk mereka berdua, itu asing. Dapur belum pernah terpakai, dengan demikian itu juga asing. Stabilitas yang terganggu oleh hal intrusi sepele itupun asing. Sebab dalam hati kecil mereka, mereka sadar bahwa sebenarnya persoalan dapur ini tidaklah sesimpel kelihatannya. Intrusi kecil itu berimplikasi raksasa. Kehidupan domestik mereka berdua mulai melebarkan sayap eksistensinya.

Terbersit keinginan bagi dirinya untuk membatalkan tawaran tersebut dengan sebuah lelucon yang sebenarnya bohong. Muncul pertanyaan apakah kalimat tanya sederhana tersebut justru telah melangkah terlalu jauh dari yang semestinya. Tuhan, jeda itu makan waktu lebih lama daripada kelahiran alam semesta…

“Saya tidak tahu kamu bisa memasak,” ujar Aga memecah keheningan, alis berkerenyit. Sebelah pergelangan tangannya masih mengambang tak nyaman di dalam genggaman jari-jari panjang laki-laki yang berdiri di depannya dengan ekspresi blank, namun ia tak juga menariknya. Wara sendiri gagal mengkategorikan pernyataan barusan sebagai ya atau tidak, atau sebagai jangan atau ayo. Tsk, persetan dengan reaksi ambigunya. Ia sudah maju selangkah dan tak ingin berhenti. Ya, ayo.

“Memang nggak bisa kalau kamu minta saya masak menu yang aneh-aneh, Ga. Tapi paling nggak saya bisa masak makanan rumahan. Nasi, air panas, telur dadar…”

“Berapa nomor telepon fast food itu? 14022?”

Wara mendapati dirinya tergelak tanpa sadar, melepaskan pergelangan tangan yang digenggamnya demi bisa berkonsentrasi menilai ekspresi laki-laki di hadapannya. Sebuah rengutan main-main. Ia tersenyum sendiri.

“Serius, boss. Sayur bayam, sayur asam, tumisan, gorengan, you name it. Selama masih masakan rumahan saya yakin saya bisa. Dan tolong jangan bilang fast food lagi, mual itu nggak enak,” ia menawarkan sekali lagi, menyelipkan dosis permohonan tersembunyi pada nada suaranya. Ia memutuskan untuk tak peduli pada implikasi untuk saat ini, a boyfriend that cooks, he is.

Aga yang malam itu masih mengenakan setelah kantor minus jas dan dasinya hanya merespon dengan satu tegukan singkat yang mengurangi volume kopi pada mugnya. Raut wajahnya tak terbaca. Boss, please?

Beberapa saat kemudian mug diturunkan, tatapan terangkat, sebuah senyum terulas di sana.

“Kalau nasi goreng?”

Ah.

Right away, sir. Pedas?”

“Sebaiknya nggak usah. Saya sudah lihat standar pedasmu seperti apa, dan saya ingin kondisi perut saya aman dan damai besok pagi, terima kasih banyak.”

“Pfft, sissy,” timpal Wara sambil berbalik ke arah dapur dan ruang makan mereka yang berhimpitan. Aga mengikutinya di belakang tanpa protes, niatnya untuk melanjutkan mengecek proposal terkalahkan oleh abnormalitas kegiatan malam itu.

“Kalau saya dikatai sissy oleh seseorang yang memakan satu potong gorengan dengan dua belas cabai, then so be it,” tawa kecil meluncur dari mulutnya ketika ia meletakkan mug kopinya di atas meja makan dan duduk di sana dengan patuh seperti anak kecil yang menunggu makanan kesukaannya matang. Meskipun jika dipikir-pikir lagi, ia memang menunggu makanan kesukaannya matang.

“Okay, okay. Saya janji nasi goreng malam ini akan Aga-safe. Pakai kerupuk udang kan?”

“Silakan. Oh, masukkan sianida sekalian kalau begitu.”

Hei, ini tidak seaneh yang ia bayangkan. Aga duduk di meja makan, memeluk cangkir kopinya dan menunggunya sembari bercerita tentang harinya di kantor sementara ia sendiri berkutat di balik counter dapur, meracik bumbu-bumbu yang selama ini hanya dijadikan pajangan lemari dapur dalam botol kaca bening, memotong, mencincang, menghaluskan, memasak dengan alat-alat dapur yang belum pernah terpakai, menjelajah area yang belum pernah ia jamah sebelumnya. Jelas bukan sesuatu yang ingin ia akhiri besoknya, seperti hubungan-hubungannya di masa lalu, atau bahkan minggu depannya, atau bulan depannya, atau tahun depannya…

… is every night okay?

Bawang merah, bawang putih, cabai rawit yang ia susupkan diam-diam, lada dan garam, terasi, telur, dua piring nasi putih dingin, tangannya bergerak tanpa ada yang menuntun. Resep abadi yang tak terhapus oleh keterbatasan paksa memori, merasuk dan meresap ke dalam syaraf dan nadi. Cincang, potong, halus, aduk. Tersisa satu bahan yang membuatnya sempurna, Aga Candrasa Adiwangsa. Satu piring bagian dari diriku yang lama  untukmu, baby. Kubuat khusus untukmu dan untuk kita berdua, special.

 

Wara meletakkan dua piring keramik datar di tepat di depan Aga dan hadapannya sendiri, sebelum duduk di kursi yang tepat berseberangan dengan laki-laki itu. Dua piring datar yang penuh dengan butiran-butiran kecil nasi putih bersaput cokelat kemerahan bumbu dan bercampur dengan gumpalan-gumpalan telur kuning muda, kepingan warna-warni kerupuk bawang berdesakan di pinggir piring.

“Ayo, makanlah. Saya belum bisa makan kalau kamu belum memberi komentar atau apa,” bujuk Wara yang melihat Aga masih bergeming di tempat duduknya, menatap piring itu dengan ekspresi yang tak terjelaskan. Tidak biasanya ia gagal membaca ekspresi laki-laki yang membuatnya rela hidup di Jakarta selama berbulan-bulan itu, satu lagi ekspresi yang belum berhasil ia kategorikan, sebab ia belum pernah muncul hingga saat ini. Bukan khawatir, bukan pula ragu, meskipun ia bisa melihat sedikit kilas senyum di matanya, mungkin campuran antara ketiganya atau mungkin malah bukan semuanya.

“Itu bukan kerupuk udang—“

“Saya tahu,” sambar Aga cepat sebelum Wara berhasil menyelesaikan kalimatnya,”kerupuk dengan warna cerah begini itu kerupuk bawang, saya tahu. Saya cuma…”

…baru menyadari fakta bahwa akan tiba malam seperti ini, dimana seorang Aga dan Wara bisa berada bersama dalam sebuah tempat pribadi yang bisa mereka sebut rumah tanpa salah satu dari mereka harus bekerja lembur atau kumat malasnya, tanpa pertengkaran-pertengkaran kecil ataupun besar, tanpa sesi bercinta yang melelahkan? Fakta bahwa implikasi yang ditimbulkan dari perubahakn kebiasaan malam ini tak membuatnya senang dan justru khawatir? Fakta bahwa sesi masak dan makan bersama ini diam-diam menyuarakan semacam perjanjian yang akan membawa hubungan mereka pada tahap yang lebih jauh lagi? Fakta bahwa suasana seperti ini membuat mereka berdua merasa seperti…

Stop thinking and eat your freakin food, Ga. I can hear you think,” tegurnya pada akhirnya, meraih sendok di tengah meja dan memakan sendiri nasi goreng yang ada di piringnya tanpa menunggu, mengunyah tanpa merasakan.

Ia tahu Aga sedang berpikir, sebab ia sendiri sedang melakukan hal yang sama, meskipun mungkin apa yang sedang berputar di kepala mereka masing-masing adalah dua hal yang berbeda. Ia hampir-hampir merasa kesal pada dirinya sendiri yang terlalu mudah dibuat ragu. Tidak mudah untuknya membayangkan sebuah komitmen. Tidak mudah baginya untuk mempertimbangkan kata ‘selamanya’, dan, God help him, satu hal kecil dapat membuatnya jatuh bimbang.

“Jangan menggerutu begitu. Saya suka nasi gorengmu.”

Aga menyuapkan butiran-butiran kecil nasi goreng itu ke dalam mulutnya dengan perlahan, bergantian dengan kerupuk bawang warna-warni, begitu perlahan hingga gerakannya luput dari sudut mata Wara yang sibuk mengunyah porsinya sendiri.

“E-enakkah?” ia bertanya ragu.

“Paling enak dari semua nasi goreng yang pernah saya makan. Kamu tahu, nasi goreng buatan ibuku terlalu banyak sayurnya, nasi goreng buatan Indriana rasanya malah mirip pizza, dan Alex nggak bisa masak nasi goreng kalau bumbunya nggak instan,” laki-laki yang duduk di hadapannya itu masih mengunyah perlahan dengan ekspresi khidmat, seakan ingin mempertahankan rasa yang ada di dalam mulutnya selama mungkin.

“Itu cuma nasi goreng kampung, hanya pakai telur, bumbunya dihaluskan dan pakai terasi.”

“Sangat Wara,” gumam Aga dengan mantap.

“Maksudmu bagian terasinya?” ia membalas sembari melemparkan sepotong kecil kerupuk ke seberang meja yang dihindari Aga dengan mudah sambil tertawa kecil.

“Bukan, bukan, oi, jangan buang-buang makanan. Maksud saya nasi goreng ini sederhana, rasanya simpel tapi komplet, dan yang paling penting, enak. Meskipun agak keasinan untuk selera saya.”

Fotografer itu mengedikkan bahu dan menjawab main-main,”entahlah, kalau menurut mitos Jawa berarti saya sudah kebelet ingin kawin, bahkan meskipun saya sudah ‘kawin’ semalam.” Kedua tangannya terangkat, membentuk tanda petik di udara.

Aga menyambut referensi tiba-tiba tentang kehidupan seksual mereka itu dengan dengusan dan tawa kecil, membuat Wara mau tak mau mengarahkan pandangannya ke seberang meja, menatap mata laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta itu dan ikut tertawa beberapa detik kemudian, hingga suara tawa mereka berdua bercampur dan menggema di seantero apartemen, bersahutan dalam ritme kreskendo sampai akhirnya berhenti karena kehabisan napas.

“Kawinnya belum cukup, eh?” setengah terengah-engah Aga bertanya, meraih sisa kopinya yang telah dingin untuk langsung dihabiskan dalam satu tegukan besar.

“Mmhmm, saya akan membuatkanmu masakan yang keasinan tiap malam kalau seandainya dengan itu saya bisa memperoleh jatah ‘kawin’ lebih,” timpal Wara lagi, membuatnya melanjutkan tawa.

“Tiap malam ya? Wara janji?”

Kali ini giliran Wara yang terdiam. Aga selalu berhasil mengubah mood manapun menjadi serius, dan jika ia melakukan itu, maka tandanya ia sedang, well, serius. Pertanyaan itu serius. Implikasi, implikasi. Apa itu berarti apa yang ia pikirkan dan khawatirkan tadi berbeda dengan apa yang dipikirkan dan dikhawatirkan otak laki-laki itu?

“Anything if that makes you happy, boss.”

Senyum lagi. “Saya jauh lebih suka begini, makan malam dengan nasi goreng buatan Wara daripada makan di luar.”

Wara membalas senyuman itu dengan berdiri dan mencondongkan tubuh ke seberang meja makan yang hanya bisa mengakomodasi empat orang itu dan berbisik tepat di telinga Aga. Mungkin komitmen berkepanjangan tidak semenakutkan itu dengan laki-laki ini. Mungkin memang tidak ada yang salah dengan ‘selamanya’ jika kata yang mengikuti adalah ‘Aga Candrasa Adiwangsa’.

…every night is okay then, boss. Every night it is.

***

Esok paginya, sebuah guncangan di bahu membangunkannya. Dan sebelum sempat ia bertanya atau bahkan membuka mata, Aga sudah menyeret lengannya ke ruang makan tanpa memperbolehkannya berhenti untuk mencuci muka ataupun mengumpulkan nyawa.

“Sekarang giliran saya masak,” ujar Aga bangga, mendudukkan Wara di salah satu kursi di meja makan mereka, di hadapannya sebuah gelas tinggi berisi jus jeruk dan piring yang ditutupi tudung saji.

“Whoa. Kamu bisa masak juga? Rasanya saya belum pernah tahu, boss,” ujar Wara sembari mengusap mata, mau tak mau tertular semangat,”apa ini? Nasi goreng lagi?”

“A-la Aga Candrasa Adiwangsa,” laki-laki yang masih mengenakan apron hitam di atas setelan kerjanya itu membuka tudung saji dengan gestur ala pelayan restoran bintang lima, menampakkan gumpalan hitam kemerahan dengan bintik-bintik kuning menyerupai sinar matahari di neraka atau semacamnya, yang membuat Wara bersumpah bahwa sedetik yang lalu ia melihat gumpalan hitam itu bergerak sendiri dan hendak menerkamnya.

“Wara membuatkan saya nasi goreng tiap makan malam, saya membuatkan wara nasi goreng tiap sarapan. Deal?” tanya Aga antusias, menjejalkan sendok ke tangan Wara yang hampir terjungkal dari kursi.

Yap. Pikirkan lagi tentang komitmen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s