New Teaser! Chapter 2 Penyatuan

yo

 

“Begitulah. Aku minta putus.”

Lingga mengernyit. Dia sudah tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Polanya selalu sama. Yang membuatnya tidak nyaman setiap kali hal semacam ini terjadi, bagaimana pun, adalah kenyataan bahwa dia tidak sedikit pun merasa kehilangan.

“Aku minta maaf, Rika.”

Perempuan berambut bob itu menggeleng sebelum beranjak. “Kalau Kak Lingga merasa bersalah, jangan pacari Agnes sebelum Kakak yakin bisa serius dalam berhubungan.”

“Tapi aku serius sama kamu, Rika, bukan Agnes!” Lingga berteriak untuk menjawab, tapi perempuan itu terus berlalu. Dengan desahan berat, diambilnya rokok yang terpekur di atas asbak dan dihisapnya dalam-dalam.

“Padahal saya sudah mau kasih Kak Rika teh tarik gratis, eh perginya cepat.”

Secangkir kopi hitam yang harum diletakkan di atas mejanya. Lingga tersenyum malu pada pemuda yang meletakkannya.

“Sori, Yon. Nggak bermaksud bikin ribut masalah beginian di warungmu.”

Pemuda itu menggeleng, lalu nyengir. “Sudah biasa, Kang Lingga. Waktu itu malah ada orang yang menggugat cerai suaminya di sini.”

Lingga tertawa. “Serius?”

“Suaminya teh sudah mau memukul istrinya karena mempermalukan dia di depan banyak orang, waktu itu warung lagi ramai.” Yono mendekap baki yang dibawanya ke dada dan memandang ke luar kedai. “Bukan bermaksud ikut campur, tapi apa nggak perlu dikejar? Kak Rika kan sudah lama sama Kang Lingga? Setahunan?”

“Kurang lebih,” balas Lingga. Dia tidak ingin mengaku pada Yono kalau dirinya bahkan tidak pernah repot-repot menghitung waktu yang dihabiskannya bersama Rika. “Nanti Rika biar kutelepon saja. Aku sedang  menunggu Wara.”

“Ah, Kang Wara mau datang? Biar saya siapkan brownies kesukaan Kang Wara. Kang Lingga mau pesan camilan sekalian?”

“Nanti saja, Yono. Terima kasih.”

Yono tersenyum dan berlalu. Lingga memerhatikan sosok kurus itu menyelinap ke belakang konter sebelum kembali memerhatikan jalan raya di depan kedai kopi tempatnya berada. Sosok Rika sudah tidak lagi terlihat. Seharusnya dia menuruti nasihat Yono. Mungkin sebaiknya dia berusaha mengejar Rika dan mengantarnya pulang. Kewajiban terakhir kali sebagai—mantan—pacar.

Tapi salah Rika karena mendatanginya di sini tanpa peringatan, pikirnya. Tujuan Rika sudah jelas, menyergapnya di sini untuk memutuskannya sepihak. Pasti dia sudah punya seseorang untuk mengantarnya pulang. Lagipula, Lingga tidak bisa seenaknya membatalkan janjinya dengan Wara.

Lalu dia mengernyit lagi begitu ingat tujuan Wara minta menemuinya di sini.

“Gue mau mempertemukan elo sama Aga,” kata Wara sebulan lalu. Logat jawanya yang masih kental saat menyebutkan “gue-elo” sering membuat Lingga ingin tertawa, tapi kadang juga membuatnya melankolis. Meski lahir dan besar di Jogja, setelah lima belas tahun tinggal di ibukota, lidah jawanya nyaris memudar. Ibunya sering protes karena setiap tahun bicaranya “semakin Jakarta.”

“Bos besar Adiwangsa? Ngapain dia ketemu gue?” tanyanya seraya memotong rainbow cake yang dibawakan Wara.

Hari ulang tahunnya bertepatan dengan  pergantian tahun. Lingga tidak terlalu suka ulang tahunnya dirayakan karena merasa hari lahirnya sudah terlalu meriah diperingati orang-orang di seluruh dunia. Meski begitu, setiap sedang ada di Jakarta, Wara akan selalu datang dan membawakan sesuatu untuk ulang tahunnya—makanan-makanan biasa untuk dimakan berdua. Lingga membuat pengecualian untuk temannya satu ini. Wara tidak pernah ingat hari ulang tahunnya—tanggal 12 Desember yang tertera di KTP diakui sebagai tanggal yang dipilih sembarang—dan sering menjadikan ulang tahun Lingga sebagai perayaan untuk dirinya sendiri, untuk mengucap syukur karena berhasil melalui setahun lagi tanpa ada memori lain yang terhapus dari benaknya.

Saat Lingga meletakkan kue jatah Wara di hadapannya, dia bisa melihat wajah fotografer itu sedikit memerah. Seketika dia merasa curiga.

“Wara?”

“Eh, Lingga… gue mau kasih tahu sesuatu…” ujar Wara, nyaris berbisik.

“Kalau elo mau nembak gue, jawabannya sorry, not into dicks.”

Wara mendecakkan lidah. “Gue juga nggak napsu sama elo, kali. Gue into Aga’s dick.”

Suasana seketika hening untuk beberapa saat. Lingga dan Wara saling menatap seperti dua koboi yang siap menembak satu sama lain. Lalu, mereka terbahak bersama.

“Apa jadinya kalau bos besar tahu elo tertarik sama keris pribadinya?” tanya Lingga sambil berusaha menghentikan tawanya.

“Dia tahu, kok. Sudah setahun setengah kami jadian,” jawab Wara enteng.

Baru saat itu mata Lingga benar-benar mendelik kaget. “Shit. Serius?”

“Karena itu gue mau elo ketemu sama dia. Cuma elo teman yang sudah gue anggap seperti keluarga sendiri, jadi…” Wara mengedikkan bahunya.

“Jadi ini semacam meet the in-laws?” Ketika Wara kembali mengedikkan bahunya, Lingga mengusap wajahnya lelah. “Wara, apa elo yakin? Elo ketemu dia baru… berapa? Dua-tiga tahun lalu? Dan sekarang elo bilang kalau kalian baru pacaran satu setengah tahun, tapi elo sudah mau mengenalkan dia ke gue seolah hubungan kalian bakal permanen?”

Wara mengernyit seolah tersinggung oleh ucapannya. “Kami mau tinggal bersama.”

Lingga hampir kena serangan jantung. Dia hanya bisa mendelik tidak percaya pada Wara yang tiba-tiba memutuskan bahwa rainbow cake di atas piring lebih menarik daripada reaksinya.

Setelah Lingga bisa mengontrol diri untuk setidaknya bertanya dengan patut, baru Wara menjelaskan hubungannya dengan bos besar Adiwangsa. Bahwa mereka memutuskan berpacaran beberapa saat setelah persidangan kasus Adiwangsa yang menghebohkan itu selesai. Bahwa, ya, Wara sudah bertemu keluarga Aga dan mereka sudah memberi restu—“setidaknya mereka nggak langsung membunuh gue di tempat,” komentar Wara dengan ragu. Juga bahwa pada ulang tahun fiktif Wara 12 Desember lalu, Aga menghadiahinya sebuah unit apartemen mewah tiga kamar dan memintanya untuk tinggal bersama. Surat apartemen itu semua atas nama Wara. Wara masih merasa bahwa hadiah ini keterlaluan—Lingga sangat setuju—tapi tidak bisa menolak karena Aga terlihat begitu kecewa saat Wara berusaha menolaknya pertama kali. Jadi, dia datang untuk meminta saran Lingga. Juga restunya.

“Wara, elo sudah pernah ada dalam situasi seperti ini sebelumnya,” desah Lingga.

Dulu Wara pernah bercerita bahwa pacar laki-laki pertamanya adalah anak seorang anggota DPRD Jogja pada waktu itu. Laki-laki itu juga mengajak Wara tinggal bersama di rumah kosnya, tapi pada akhirnya laki-laki itu sering menyakitinya. Sampai sekarang Wara tidak pernah menceritakan dengan detil apa-apa saja yang pernah dilakukan oleh pacar pertamanya itu, tapi Lingga tahu dari cara tubuh Wara berubah tegang setiap kali mereka membicarakan hal itu, bahwa Lingga tidak akan siap mendengarnya.

“Aga orang baik,” gumam Wara pelan.

“Dulu pacar pertama elo itu—siapa? Kris?—juga elo kira baik dan elo mau-mau saja masuk ke sarangnya.”

Wara berubah defensif. “Aga nggak mungkin seperti itu. Gue tahu dia.”

Hanya dalam setahun elo tiba-tiba merasa tahu dia sepenuhnya? Lingga ingin mencibir, tapi ditahannya. “Terus, soal masa lalu elo gimana? Bukannya elo sendiri yang bertekad nggak akan menetap sama seseorang sebelum elo bisa ingat masa lalu elo?”

“Gue akan terus cari,” tegas Wara, “kali ini bersama Aga.”

Kemantapan dalam suara Wara membuat Lingga tutup mulut. Sejak perkenalan mereka delapan tahun lalu, Wara tidak pernah bicara dengan begitu yakin. Kata-katanya seringkali menggantung dalam keraguan, ketakutan akan kemungkinan apa yang akan diketahuinya justru dapat berbalik menyakitinya. Namun sejak dia menemukan keris Aga tiga tahun lalu, yang ternyata adalah pasangan sarung kerisnya, nada suara Wara selalu terdengar yakin.

Karena itu Lingga ada di sini sekarang, di kedai kopi langganannya, masih tidak percaya bahwa Wara, sahabatnya yang selama ini selalu datang dan pergi sesukanya, kini memutuskan untuk menetap bersama seseorang. Terlebih lagi, seorang bos perusahaan besar. Mau tak mau Lingga merasakan selentingan emosi negatif. Selama ini dia menghormati Wara karena merasa kagum dengan sikapnya yang antikemapanan. Kini setelah tahu bahwa pada akhirnya Wara pun menetap bersama orang mapan, Lingga merasa sedikit terkhianati.

Atau mungkin dia jadi sinis karena sadar akan segera dipameri kemesraan Wara dan pacar barunya sementara dia baru saja diputuskan oleh pacarnya sendiri.

Jam delapan lewat lima belas menit, sebuah Nissan mewah hitam mengilat parkir di samping mobil Kijang tuanya. Kekontrasannya membuat Lingga mengernyit. Tak lama kemudian, Wara keluar dari dalamnya bersama seorang laki-laki yang wajahnya familiar. Aga Adiwangsa. CEO perusahaan developer top nasional Adiwangsa Group.

Dua pelayan kedai anak buah Yono berbisik-bisik tertarik di sudut. Mereka kenal Wara, karena dirinya dan Wara adalah pelanggan tetap kedai ini sejak lima tahun lalu. Bagaimana pun, kehadiran sebuah mobil mewah ke kedai kecil ini bisa dihitung jari, dan kenyataan bahwa Wara muncul dari dalamnya membuat suasana berubah heboh.

Dia berusaha kelihatan tak acuh dan menyisip kopinya perlahan sampai Wara masuk ke dalam warung dan melambaikan tangan padanya. Lingga melihat ekspresi terkejut melintas di wajah Aga ketika Wara mendatanginya, yang lalu berubah awas. Dia sudah terbiasa mendapat reaksi seperti itu dari laki-laki lain. Dengan tinggi 187 cm dan wajah yang lebih banyak mirip kakeknya yang orang Belanda daripada orangtuanya yang berwajah Jawa asli, Lingga sudah sering dibilang lebih pantas menjadi model daripada dosen.

“Hei, sori baru bisa ketemu sekarang,” sapa Wara. “Bos satu ini susah banget cari waktu senggang. Bahkan Minggu dia ke kantor.” Wara tersenyum pada Aga yang membalasnya dengan senyum begitu lembut hingga membuat Lingga tercengang. “Jadi, Aga, ini Lingga. Sahabat yang paling banyak membantuku di Jakarta. Lingga, elo pasti sudah tahu siapa yang gue bawa ini.”

“Lingga Wisanggeni,” Lingga mengulurkan tangannya, yang segera disambut—kalau bukan disambar—oleh Aga dengan cengkeraman yang mantap. Bulu kuduknya seketika berdiri ketika tangan itu menjabatnya seolah siap mencabik tangannya lepas. Lingga balas mencengkeram tangan itu.

“Aga Candrasa Adiwangsa,” suara laki-laki itu mengalun rendah, tenang. “Akhirnya kita bisa ketemu, Pak Dosen.”

Lingga menatap Wara. “Jadi, elo sekarang topping top executive? Naik level, dong.”

“Bottoming top executive,” koreksi Aga dengan senyum tertarik.

Mulut Lingga menjeblak terbuka. Dia menatap Aga dan Wara bergantian. Dari semua mantan pacar laki-laki Wara, Lingga hanya pernah sekali mendengar Wara menjadi bottom. Bahkan dengan pacar pertamanya yang anak orang kaya dulu, Wara mengaku menjadi top.

Wara segera mengambil tempat duduk, terlihat risih. “Jangan ngomong masalah begitu di tempat macam ini, ah. Sini, Ga, duduk. Kamu mau pesan apa?”

Sikap Aga dengan cepat melunak saat beranjak duduk di samping Wara. Lingga memerhatikan mereka berdua berdebat ringan soal siapa yang harus membayar (Wara) dan pesanan-pesanan mereka (Aga ingin memesan semua camilan di dalam menu). Meski tidak bermesra-mesraan seperti layaknya sepasang kekasih, tapi senyum yang mereka berikan pada satu sama lain menunjukkan dengan jelas kalau mereka pasangan yang tengah dimabuk cinta. Lingga mendengus. Lovebirds.

Setelah pesanan mereka dicatat, Wara pamit ke toilet dengan ekspresi bersalah. Mata Aga mengikuti sosoknya sampai dia menghilang di sudut kedai. Lingga menawari Aga rokok, yang ditolaknya.

“Jadi, kenapa kalian pacaran?” Lingga memulai. Aga memandangnya penasaran, seolah tidak mengerti. Ekspresi itu membuat Lingga tertawa. “Kenapa elo pacaran sama Wara? Apa dia cuma akan jadi simpanan jangka panjang? Some sort of sex slave?”

Alis tebal Aga mengerut. “Kenapa elo berpikir seperti itu?”

Lingga mengangkat bahu. Wara akan membunuhnya kalau mendengar pembicaraan ini. “Wara loves sex, and he’s good at it. Dia juga tipe orang yang akan lebih memilih jadi sex slave atau teman casual sex daripada menjalin hubungan serius. Coba tanya Wara tentang masa lalunya—setelah amnesia. Elo mungkin akan tahu sesuatu.”

Aga terdiam untuk beberapa saat. Matanya sejenak mengerling ke sudut kedai, tempat toilet yang barusan dimasuki Wara, lalu menatap Lingga lagi, penasaran.

“Lingga,” panggilnya, nada suaranya seolah menilai, “Elo pernah? Have sex with Wara?”

Lingga tersedak kopi yang baru saja diminumnya.

“Enggak lah! Gue masih straight!”

“Gue nggak lihat hubungannya antara jadi straight dan having sex sama laki-laki,” bibir Aga membentuk sebuah seringai, “Elo bilang Wara suka—dan jago—dalam urusan seks. Elo juga kelihatannya protektif sama dia.”

“Jangan posesif begitu.” Lingga mengangkat kedua tangannya. “Gue nggak punya perasaan romantis ke Wara. Tapi gue tahu Wara lebih lama dari elo dan paham hobinya pindah dari satu pasangan ke pasangan lain dengan cepat. Jadi gue masih belum percaya kalau dia memutuskan buat menetap sama elo. Dan jelas, gue nggak bisa cepat percaya kalau ada laki-laki di Indonesia ini yang dengan entengnya memacari laki-laki lain dan mengajak pacarnya serumah tanpa takut sanksi sosial atau tanpa rencana aneh lain.”

“Seperti misalnya, buat senang-senang di sex parties? Jadi berondong untuk hadiah arisan bapak-bapak mesum?” Aga memberi pilihan.

Lingga membalasnya dengan kedikan bahu. “Mau taruhan?”

“Taruhan apa?”

“Kalau Wara tetap sama elo sampai dua tahun ke depan, elo menang.”

Tepat di akhir kalimat Lingga, Yono datang membawakan pesanan mereka. Aga tersenyum sejenak pada pemilik kedai tersebut, kemudian segera menghirup kopinya dan memuji keharumannya sebelum Yono sempat berlalu. Lingga mengerucutkan bibir saat melihat Yono tersipu menanggapi pujian tersebut. Sepengetahuannya, Yono belum pernah tersipu pada pujian pelanggan. Mungkin Aga memang punya pesonanya sendiri.

“Taruhan berapa besar?” tanya Aga setelah Yono pergi.

“Dua puluh juta,” balas Lingga cepat. “Mungkin bukan jumlah besar buat elo, tapi paling besar gue bisa menyediakan segitu.”

Aga bersiul. Senyumnya berubah bengis. “I don’t need your money. But mark this day, Pak Dosen. Kalau dua tahun lagi gue sudah nggak sama Wara, gue kasih elo lima puluh juta.”

Lingga menelan ludah. Lima puluh juta mungkin bukan jumlah yang besar bagi seorang Aga Adiwangsa, tapi kenyataan bahwa Aga bersedia memberikannya cuma-cuma menandakan kepercayaan dirinya yang besar. Dan mungkin juga ancaman bagi Lingga.

Seakan sadar kalau pembicaraan mereka sudah selesai, Wara keluar dari kamar mandi dan bergabung kembali bersama mereka. Aga kembali berubah dari singa yang baru saja menantang dan mencurigai Lingga menjadi anak kucing yang bermanja-manja pada Wara. Perubahan sikapnya yang drastis membuat Lingga kembali curiga. Namun saat mereka hendak pamit—Aga kembali ke mobil lebih dulu sambil membawa berdus-dus brownies dan roti cane—Wara menatapnya malu-malu dan meminta maaf jika Aga bersikap dingin padanya. Lingga mendengus dan mengedikkan kepalanya ke arah mobil.

“Jangan buang-buang kesempatan buat bahagia, Wara. Keep him around.” Lingga menatap Wara tajam. “Tapi kalau sampai ada masalah, segera bilang ke gue sebelum berlarut-larut.”

Senyum Wara yang begitu lebar hingga seolah bisa membelah wajahnya membuat Lingga mendesah kalah.

Mungkin dia harus mulai menabung gaji bulanannya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s